Situs Berita Terkini,Harga Cabe Meroket : Perlu Revolusi Budidaya Tanaman Cabe



Dilihat : 91 kali
 
klikbalerongagri.id - Pada Pertengahan bulan Juli ini  harga cabe makin pedas, dibeberapa daerah ,  misalnya di  Jakarta  harga cabe merah   tembus Rp.100.000 per kg  sampai  Rp. 120.000  per kg dan cabe rawit meroket diangka Rp. 80.450  per kg. Mengutip informasi harga pangan Jakarta  per pertenganhan Juli ini di pasar Jakarta  harga Cabai Merah naik  sebesar 20% dari harga semula dan 10% kenaikannya untuk cabe Rawit. Tidak hanya di Jakarta kenaikan harga cabe juga terjadi di  Subang, Blitar, malang, Solo, Kediri dan beberapa daerah sentra Cabai lainnya. Kenaikan yang paling dirasa ada di Daerah yang masyarakatnya mengkonsumsi Cabe dalam jumlah besar misalnya di Sumatera Barat, Sulawesi selatan, aceh dan lain – lain.
 
Rentetannya inflasi semakin tinggi  yang berarti memberatkan Ekonomi nasional bahkan sampai ke emak-emak pun kenaikan harga cabe pun jadi persoalan serius. Emak-emak sebagai pengguna utama komoditi cabe mengeluhkan harga cabe yang meroket, hampir tidak terjangkau. Sering terjadi pertengkaran kecil antara bapak, emak dan anak di meja makan karena makanan yang disuguhkan emak sudah berkurang pedasnya, akibat emak mengurangi Pemakian cabe karena harganya yang mahal tadi.
 
Terlepas dari ilustrasi diatas, timbul pertanyaan mengapa harga cabe meroket tajam? Jawabannya tentu beraneka ragam. Salah satunya   dikutip dari CNBC Indonesia   dimana  disampaikan PLT  Deputi Bidang ketersedian dan  Stabilitas pangan  Bappenas, Risfaheri menjelaskan kenaikan harga pangan seperti cabai disebabkan terganggunya produksi atau produksi turun  akibat hama dan musim hujan. Efeknya Cabai Merah atau rawit pasokan nya pun berkurang ke pasar dan disaat yang bersamaan , mobilitas masyarakat yang mulai tinggi menyambut Idul Adha turut berdampak pada konsumsi, termasuk terhadap komoditas cabai.  sesuai dengan Hukum ekonomi sudah pasti jika pasokan atau ketersediaan barang berkurang sementara permintaan lebih banyak, bisa dipastikan  harga pun melonjak tinggi.
 
Terkait dengan hal diatas hubungan antara Musim hujan dan kenaikan harga cabe dapat di jelaskan  sebagai berikut, intensitas hujan yang tinggi dengan musim kemarau basah  membuat tanaman rentan terkena serangan jamur dan virus, khususnya untuk tanaman Hortikultura  seperti cabai dan bawang merah. Dilansir dari Bisnis.com akibat cuaca kemarau basah ini  produktivitas tanaman cabai berkurang 31 % dibanding musim tanam tahun sebelumnya. Untuk diketahui Produksi cabai besar nasional  pada bulan juni , 2022 sebesar 78.040 ton dan cabai rawit 1723 ton ( berita satu )
 
Menyangkut hama yang menyerang tanaman cabe adalah hama pathek yang disebabkan Jamur Colletotrichum dengan target  menyerang hampir seluruh tanaman, mulai dari Cabang, Ranting, daun hingga buah yang ditandai  timbul bercak  seperti melingkar berwarna cokelat pada tanaman cabai yang terserang. Walaupun bisa dipanen kualitas dan kuantitas buah rendah. Jika serangan hama ini terjadi,  sudah barang tentu pula sangat memberatkan petani karena harus merogoh kantong lebih untuk membeli Insektisida dan fungisida sebagai bahan pengendali penyakit tersebut. Sebenarnya bukan hanya penyakit tanaman saja  yang marak pada musim hujan, ada satu hal lagi yang berefek serius pada  produksi tanaman Cabai yaitu terjadinya banjir. Banyak kasus disentra cabe yang gagal panen dikarenakan lahan cabai terkena bencana banjir. Artinya banjir sendiri secara langsung telah member andil pada penurunan pasokan komoditas cabai keberbagai pasar tradisional.
 
Disisi lain ada pendapat yang menyatakan  kenaikan harga cabe disebabkan oleh  Harga pupuk Kimia non subsidi yang melambung 2 kali lipat dari harga semula. Ini bisa dimengerti  dengan kenaikan harga pupuk dan obat-obatan sudah barang tentu pula  meningkatkan cost budidaya tanaman cabai yang berarti pula memicu kenaikan harga.  Kemudian turunnya produksi Cabai  juga  dikatalisir oleh tanah yang ditanami cabe berada dalam Keadaan sakit. Faktanya dalam Luasan 1000 meterpersegi lahan pertanian cabe paling bisa menghasilkan  panen 5-10 kg cabai. Dengan kata lain sebagian besar petani berbudaya tanaman cabe  pada lahan yang sakit.  Seperti Dilansir dari Kompas.com kondisi ini terjadi karena petani seringkali mengabaikan penggunaan pupuk organic bahkan menggunakan pupuk kimia dalam jumlah berlebihan. Faktanya dilapangan sering kita jumpai  kasus pemakaian Pupuk P dalam jumlah Over Dosis sehingga tanah menjadi padat, struktur dan tekstur tanah berada dalam kondisi yang tidak ideal. Juga penggunaan pestisida kimia untuk memberantas hama dan mengendaliakn penyakit secara-besar-besaran juga berpengaruh terhadap  kondisi tanah pada lokasi  budidaya cabai dimana efek yang paling Nampak adalah musnahnya mikroorganisme yang membantu kesuburan tanah. Seiring dengan itu penggunan benih cabe dengan Brand Varietas unggul dan dipromosikan  secara besar-besaran  telah pula menimbulkan persoalan baru pada budidaya tanaman cabai. Bagaimna tidak tanpa disadari pemnfaatan benih unggul tanaman cabai hanya  akan membuahkan hasil jika dipupuk dengan intensitas  dan dosis tinggi serta  disemprot pestisida dalam jumlah besar, baru bisa mengendalikan  hama penyakit tanaman Cabai. Jika kedua hal ini tidak dapat dipenuhi bisa dipastikan produksi cabai dari benih varietas unggul akan lebih rendah dari Varietas lokal.
 
Bertitik tolak  dari  hal diatas agar petani tetap untung  dan pasokan cabe kepasar-pasar  tradisional tetap terjaga, perlu dilakukan Revolusi budidaya tanaman cabe  sehingga pengaruh anomaly cuaca ekstrim, hama penyakit, fluktiasi harga pupuk tidak lagi menjadi persoalan besar terutama sekali  untuk dihubungkan dengan Produksi tanaman cabai. Bentuk revolusinya bisa mermacam-macam yang terpenting terjadi perubahan pola budidaya dari yang semula kurang baik menuju ke pola budidaya yang lebih baik. Tentu nya para ahli  berkompeten yang bisa mencarikan jalan keluarnya.
 
Paling tidak secara sederhana di tingkat bawah , ada  1 ( Satu ) point revolusi Budidaya tanaman cabai yang dapat dilakukan   Petani yaitu,  Menerapkan Budidaya tanaman cabai  dengan mengacu kepada konsep LEISA ( Low External Input And Suistainable Agriculture ) atau lebih dikenal denga pemanfaatan Input Luar ( pupuk, benih, Pestisida  dsb ) rendah. Dikutip dari Buku Pertanian Masa depan ( 2003 ), sistim LEISA lebih menekankan penggunaan pupuk berimbang dengan komponen pupuk organic  dan pembenah tanah lainnya sebagai komponen utama, penggunaan benih lokal toleran  hama dan penyakit, pemanfaatan tanaman inang, Tanaman perangkap dan tanaman obat  serta  sistim tumpang sari untuk mengendaliakan penyakit serta penggunaan jerami tanaman sebagai mulsa
 
Intinya revolusi tanaman cabai dengan konsep LEISA  adalah mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam dan manusia yang tersedia ditempat ( seperti tanah, air, Tumbuhan, tanaman dan hewan lokal serta tenaga manusia, pengetahuan dan keterampilan ) dan yang secara ekonomis layak, Mantap secara ekologis, disesuaikan menurut budaya dan  adil secara social. Pemanfaatan Input luar  ( Pupuk kimia buatan dan pestisida kimia serta benih cabai unggul ) tidak dikesampingkan namun hanya sebagai pelengkap sumber daya lokal
 
Dengan konsep ini, diyakini petani tidak lagi  sepenuhnya tergantung pupuk dan pestisida kimia karena sudah disuplay dari input lokal sehingga ketika terjadi lonjakan harga bahan input luar tersebut, tidak terlalu mempengaruhi cost yang dikeluarkan petani cabai. Begitu juga dengan antisipasi anomaly cuaca ekstrim sistim LEISA diyakini mampu meminimalisir kejadian hama dan penyakit dilapangan dan dengan rekayasa lingkungan areal pertanaman cabai secara alami mmampu menghindarkan tanaman cabai dari hal-hal yang tidak diinginkan.
 
Mungkin hal ini hanyalah  sebuah gambaran  revolusi  budidaya tanaman cabai  yang dapat diterapkan  Petani,   tentu masih banyak teknologi dan metoda lain yang dapat dikembangkan  demi jayanya petani cabe, terkendali nya harga dan terjaganya produksi tanaman cabe. Semoga!!!
 
( Ade Candra, S.Pt , Penyuluh  Pertanian PNS di Dinas Pertanian Kabupaten Pasaman )

Harga Cabe Meroket : Perlu Revolusi Budidaya Tanaman Cabe

Posting by klikbalerongagri

Harga Cabe Meroket : Perlu Revolusi Budidaya Tanaman Cabe Harga Cabe Meroket : Perlu Revolusi Budidaya Tanaman Cabe   klikbalerongagri.id - Pada Pertengahan bulan Juli ini  harga cabe makin pedas, dibeberapa daerah ,  misalnya di  Jakarta  harga cabe merah   tembus Rp.100.000 per kg  sampai  Rp. 120.000  per kg dan cabe rawit meroket diangka Rp. 80.450  per kg. Mengutip informasi harga pangan Jakarta  per pertenganhan Juli ini di pasar Jakarta  harga Cabai Merah naik  sebesar 20% dari harga semula dan 10% kenaikannya untuk cabe Rawit. Tidak hanya di Jakarta ke

91 Kali